Peran "Panakawan" (Punokawan) seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong dalam Wayang Kulit, meskipun bukan tokoh utama, seringkali menjadi daya tarik utama karena humor dan kritik sosial yang mereka sampaikan. Dalam konteks drama tradisional Madura, mengapa tokoh Panakawan ini sangat efektif dalam menyampaikan pesan moral atau kritik sosial yang sensitif?