Prinsip 'mengasihi musuh' yang diajarkan Yesus (Matius 5:44) seringkali dianggap sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika seseorang merasa disakiti atau difitnah. Seorang siswa diejek dan diintimidasi oleh sekelompok teman di sekolah karena keyakinannya. Bagaimana ia dapat secara konkret mewujudkan prinsip mengasihi musuh dalam situasi ini tanpa mengorbankan martabatnya?