Prinsip 'Nrimo ing pandum' seringkali diartikan sebagai sikap pasrah tanpa upaya. Namun, dalam konteks filosofi Jawa yang lebih mendalam, makna ini justru mendorong individu untuk mensyukuri apa yang dimiliki setelah berikhtiar maksimal. Di era digital yang penuh perbandingan sosial, bagaimana filosofi ini dapat menjadi benteng untuk menjaga kesehatan mental?