Jika sebuah arsitek modern ingin merancang sebuah pusat kebudayaan Batak yang mengintegrasikan filosofi Jabu Bolon, namun harus menghadapi tantangan keterbatasan lahan di perkotaan dan anggaran. Elemen Jabu Bolon manakah yang paling menantang untuk diadaptasi tanpa kehilangan makna filosofisnya yang mendalam, dan mengapa?