Kawih 'Tokecang' memiliki lirik yang repetitif dan irama yang ceria. Meskipun sering dianggap sebagai lagu anak-anak, jika kita mengkaji liriknya secara simbolis, 'tokecang' (tokek ngarancang) dan 'balaga' (sombong/angkuh) dapat diartikan sebagai kritik terhadap perilaku tertentu. Apa implikasi sosial dari kritik tersebut dalam masyarakat Sunda?