Dongeng "Sasakala Tangkuban Parahu" mengandung unsur inses (hubungan sedarah) yang secara etika tidak dibenarkan. Namun, cerita ini tetap lestari dan diajarkan dari generasi ke generasi. Mengapa masyarakat Sunda tetap mempertahankan dan mewariskan dongeng ini, meskipun ada unsur kontroversial di dalamnya?