Sebuah perusahaan rintisan di bidang pariwisata berbasis kearifan lokal Sunda ingin membuat kampanye digital untuk menarik wisatawan mancanegara. Tim pemasaran memutuskan untuk menggunakan peribahasa Sunda sebagai slogan utama. Peribahasa 'Ulah ngukur baju sasampayan' dipilih. Sebagai seorang ahli komunikasi bisnis, bagaimana Anda akan menginterpretasikan dan mengaplikasikan peribahasa ini agar relevan dan menarik bagi target pasar global tanpa menghilangkan esensi lokalnya?