Sebuah perusahaan penerbitan buku di Sumenep berencana menerbitkan ulang kumpulan cerpen Madura klasik untuk pembaca remaja. Editor kepala menemukan bahwa beberapa kosa kata dan idiom dalam cerpen asli sangat kuno dan sulit dipahami oleh generasi sekarang, berpotensi mengurangi minat baca. Bagaimana editor tersebut sebaiknya mengatasi masalah ini tanpa mengurangi nilai otentikasi sastra?