Karina, seorang siswa SMK jurusan Busana, bercita-cita menjadi desainer fashion. Ia menyadari bahwa banyak merek fesyen cepat (fast fashion) menggunakan praktik tenaga kerja yang tidak adil dan merusak lingkungan. Ia ingin menciptakan merek yang etis, tetapi sadar biaya produksinya akan lebih tinggi dan mungkin sulit bersaing di pasar modern yang didominasi harga murah. Bagaimana Karina dapat merealisasikan visinya untuk berbisnis secara etis dan Kristen di tengah tekanan pasar modern?