Seorang direktur rumah sakit dihadapkan pada dilema alokasi sumber daya terbatas (misalnya, ventilator) selama puncak pandemi. Ada dua pasien dengan kondisi kritis yang sama, namun salah satunya adalah eksekutif perusahaan yang memiliki koneksi dan dapat memberikan donasi besar ke rumah sakit, sementara yang lain adalah buruh pabrik tanpa koneksi. Berdasarkan prinsip kesetaraan martabat manusia dan pilihan preferensial bagi yang rentan dalam etika Katolik, bagaimana direktur rumah sakit seharusnya mengambil keputusan alokasi sumber daya?