Pada masyarakat Sunda, Karinding, alat musik sederhana yang dimainkan dengan resonansi mulut, dulunya memiliki fungsi ganda: untuk mengusir hama di sawah dan juga sebagai alat musik hiburan pribadi. Bagaimana dualitas fungsi ini menunjukkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya dan bunyi?