Seorang teknisi Quality Control (QC) di pabrik komponen elektronik menemukan bahwa satu batch produk memiliki cacat minor yang tidak kasat mata secara langsung, namun berpotensi mengurangi masa pakai produk. Manajer produksi, demi memenuhi target pengiriman yang ketat, meminta teknisi tersebut untuk meloloskan produk tanpa perbaikan. Jika teknisi tersebut menganut ajaran Buddha, prinsip etika manakah yang paling relevan untuk dijadikan dasar pengambilan keputusannya?