Di kalangan remaja Sunda perkotaan, seringkali muncul istilah-istilah gaul atau prokem yang hanya dipahami oleh kelompok mereka, seperti "kumaha damang?" diganti menjadi "kumaha cuy?" atau "mani geulis" menjadi "geulis pisan euy". Jika seorang remaja menggunakan ragam bahasa ini saat berbicara dengan gurunya di sekolah, bagaimana potensi dampaknya terhadap komunikasi dan hubungan sosialnya?