Seorang peresensi buku novel 'Patepung di Cikapundung' menekankan bahwa gaya bahasa pengarang terasa sangat klasik dan kurang relevan dengan pembaca remaja saat ini, namun tidak menjelaskan bagaimana gaya bahasa tersebut memengaruhi pesan atau kekuatan cerita. Bagaimana peresensi dapat memperbaiki kritikannya agar lebih konstruktif dan analitis?