Seorang guru Bahasa Madura memberikan tugas kepada siswa Kelas XII untuk menulis 'carakan' (cerpen Madura) yang mencerminkan kritik sosial terhadap fenomena di lingkungan sekitar. Siswa A menulis carakan yang sangat lugas, langsung menyebutkan masalah dan pihak yang bertanggung jawab, namun kurang menggunakan majas atau simbol. Siswa B menulis carakan dengan banyak menggunakan simbol, metafora, dan sindiran halus, sehingga pembaca harus berpikir lebih keras untuk memahami pesannya. Jika tujuannya adalah menyampaikan kritik sosial secara efektif namun tetap estetik, carakan siswa manakah yang lebih memenuhi kriteria HOTS dalam penulisan sastra?