Dalam sebuah naskah drama Madura kontemporer, tokoh utama dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan tanah warisan leluhur yang subur namun sepi, atau menjualnya untuk modal usaha di kota besar yang menjanjikan kemajuan. Tokoh tersebut akhirnya memutuskan untuk mempertahankan tanahnya, meskipun harus berjuang keras mengolahnya secara tradisional. Keputusan ini didasari oleh nasihat ibunya yang selalu berkata, "Tanah panèka dhâra èbu, jhâ' èlèppa'aghi." Analisis nilai budaya Madura yang paling kuat melandasi keputusan tokoh tersebut adalah...