Dalam sebuah diskusi tentang pelestarian sastra lisan Madura, seorang peserta menyatakan bahwa 'carèta rèng majâ' (cerita orang tua/dongeng) tidak lagi relevan bagi generasi muda karena bahasanya yang kuno dan tidak sesuai dengan zaman. Bagaimana Anda mengevaluasi argumen tersebut dari perspektif ahli filologi Madura?