Seorang mahasiswa Katolik yang sangat cerdas dan berprestasi, menerima tawaran beasiswa penuh untuk studi lanjut di luar negeri. Namun, pada saat yang sama, ia merasakan dorongan kuat untuk mempertimbangkan panggilan menjadi imam. Ia merasa terpecah antara kesempatan karier duniawi yang gemilang dan panggilan rohani. Bagaimana ia sebaiknya menyikapi dilema ini berdasarkan ajaran Gereja tentang 'discernmen'?