Dalam sebuah upacara adat perkawinan Jawa, terdapat prosesi 'balangan suruh' (melempar daun sirih) dan 'ngidak endhog' (menginjak telur). Kedua prosesi ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Jika Anda diminta untuk menjelaskan relevansi filosofis kedua prosesi tersebut dalam membentuk karakter pasangan suami istri yang ideal menurut pandangan Jawa, manakah penjelasan yang paling komprehensif?