Menunjukkan bahwa krisis iklim berakar pada ketidaktahuan (avijja) dan kemelekatan (tanha) manusia terhadap sumber daya dan gaya hidup konsumtif, yang kemudian memicu serangkaian kondisi penderitaan lingkungan dan sosial, sehingga solusi harus melibatkan perubahan fundamental pada pola pikir dan perilaku.