Seorang individu yang sangat terikat pada kenikmatan indrawi (seperti makanan mewah, hiburan, dan kekayaan) kemungkinan besar akan terlahir kembali di alam Kamaloka (alam sensori). Mengapa keterikatan yang kuat pada kenikmatan indrawi ini dianggap sebagai hambatan signifikan dalam kemajuan spiritual menuju Nibbana, bahkan jika itu menghasilkan kelahiran yang 'nyaman' di alam dewa Kama?