Seorang siswa bertanya, 'Jika Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi, mengapa jalan menuju Nibbana terasa begitu sulit dan penuh perjuangan, bahkan seringkali membutuhkan pelepasan dari hal-hal yang dianggap menyenangkan oleh kebanyakan orang?' Bagaimana Anda sebagai guru akan menjelaskan kontradiksi yang tampak ini?