Keluarga Batak Pak Marpaung tinggal di Jakarta. Mereka adalah generasi ketiga yang lahir dan besar di kota besar. Saat salah satu anak mereka akan menikah, keluarga besar di kampung halaman menuntut agar upacara adat dilaksanakan secara penuh dan sesuai tradisi. Namun, biaya dan logistik menjadi tantangan besar. Bagaimana keluarga Pak Marpaung dapat mengevaluasi dan mengadaptasi pelaksanaan adat perkawinan agar tetap relevan tanpa kehilangan esensi budayanya di tengah modernisasi?