Poda Batak sering mengandung kearifan lokal yang relevan hingga saat ini. Salah satu poda mengatakan, "Hau na bolon indada marhapal-hapal, laho pe marsoara, molo tung sura na hurang begeon roham do i, bahen ma hata na denggan." (Pohon besar tidak bergoyang-goyang, saat berjalan pun bersuara, jika itu tidak didengar hatimu, buatlah kata yang baik). Analisislah makna filosofis poda ini dalam konteks etika komunikasi dan kepemimpinan di masyarakat modern.