Dalam sebuah pertunjukan drama gong, penonton disuguhkan dialog antar tokoh yang menggunakan berbagai tingkatan Bahasa Bali (Sor Singgih Basa). Salah satu tokoh, seorang punggawa istana, berbicara kepada rakyatnya dengan Bahasa Bali Alus Mider, namun ketika berbicara dengan patihnya ia menggunakan Bahasa Bali Alus Madya. Bagaimana Anda menganalisis penggunaan Sor Singgih Basa oleh punggawa tersebut dalam konteks hubungan sosial dan hierarki?