Fenomena penggunaan Bahasa Bali di media sosial seringkali menunjukkan percampuran dengan Bahasa Indonesia atau bahkan Bahasa Inggris (code-mixing dan code-switching), serta penggunaan ragam bahasa yang lebih santai (basa kepara). Di satu sisi, hal ini menunjukkan adaptasi bahasa Bali terhadap era digital. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran akan degradasi tata krama berbahasa dan kemurnian bahasa. Berdasarkan analisis Anda, manakah pernyataan yang paling tepat mengenai potensi dampak jangka panjang dari fenomena ini terhadap pelestarian Bahasa Bali, khususnya bagi generasi muda?