Seorang siswa baru dari luar Madura di sebuah SMA di Pamekasan bertanya kepada kepala sekolah, "Pak, sampeyan napa bâdhâ dhinèng bâkto kaula?" (Pak, Anda ada waktu untuk saya?). Kepala sekolah terlihat sedikit kurang nyaman. Mengapa penggunaan kalimat siswa tersebut dianggap kurang tepat dalam konteks budaya Madura?