Seorang penulis novel Madura kontemporer, R. B. Satiman, seringkali menyisipkan dialog-dialog dalam basa enggi-bhunten (bahasa halus Madura) yang panjang dan penuh sindiran halus ketika menggambarkan interaksi antartokoh bangsawan. Apa tujuan paling mungkin penulis menggunakan gaya bahasa ini?