Sebuah komunitas pemuda Kristen di daerah perkotaan berencana untuk mengadakan festival seni yang memadukan musik gereja kontemporer dengan tarian tradisional lokal yang memiliki akar animisme. Tujuan mereka adalah menarik kaum muda dan menunjukkan relevansi iman Kristen dalam konteks budaya. Namun, beberapa anggota jemaat khawatir akan terjadinya sinkretisme. Sebagai seorang pemimpin rohani, pendekatan manakah yang paling tepat untuk mengevaluasi dan membimbing komunitas ini agar dapat berinteraksi dengan budaya secara kontekstual tanpa mengorbankan integritas iman Kristen?