Seorang siswa Katolik diundang untuk berpartisipasi dalam acara dialog antarumat beragama di sekolahnya. Ia merasa ragu karena takut imannya akan terpengaruh atau dianggap berkompromi. Bagaimana ajaran Gereja Katolik memandang partisipasi umat dalam dialog antarumat beragama dan bagaimana siswa tersebut dapat mengelola keraguannya?