Dewasa ini, Gereja Katolik menghadapi fenomena 'gereja digital' di mana banyak umat lebih memilih mengikuti misa dan kegiatan rohani melalui platform daring daripada datang langsung ke gereja. Hal ini menimbulkan perdebatan tentang bagaimana persekutuan (koinonia) dapat tetap terjalin dan dirasakan secara mendalam. Dalam konteks ini, bagaimana paroki seharusnya bertindak untuk memperkuat koinonia yang otentik dan inkarnatif?