Dalam konteks penulisan nama atau istilah asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia, penggunaan aksara rekan sangat dianjurkan. Namun, terkadang ada kemiripan bunyi dengan aksara nglegena biasa. Misalnya, antara 'gh' dan 'g'. Jika Anda menemukan kata 'Ghazali' dan 'Gajah', mengapa 'Ghazali' wajib menggunakan aksara rekan sedangkan 'Gajah' tidak?