Dalam sebuah 'hata huhuasi' yang membahas tentang 'holong' (kasih sayang) dan 'pardomuan' (persatuan), 'parhata' (juru bicara) menggunakan repetisi frasa 'tubu ma holong, tubu ma dame, tubu ma parsaoran na uli' (tumbuhlah kasih sayang, tumbuhlah damai, tumbuhlah persekutuan yang indah) pada setiap akhir paragraf. Apa efek retoris paling dominan yang ingin dicapai 'parhata' dengan teknik repetisi ini?