Geguritan, sebagai salah satu bentuk Kesusastraan Bali Purwa, memiliki ciri khas penggunaan metrum 'pada lingsa' dan seringkali berfungsi sebagai media penyampaian ajaran moral atau kritik sosial. Bandingkanlah karakteristik geguritan dengan puisi modern Bali dalam konteks kebebasan ekspresi dan dampak sosialnya. Manakah pernyataan yang paling tepat mengenai perbedaan signifikan di antara keduanya?