Salah satu ciri khas Sastra Bali Pertengahan adalah akulturasi budaya Jawa-Hindu dan Bali lokal. Karya-karya seperti Kidung umumnya menggunakan bahasa Jawa Tengahan dengan pengaruh Bali yang kuat. Bagaimana Anda menganalisis dampak akulturasi ini terhadap kekayaan linguistik dan tematik sastra Bali?