Seorang kritikus sastra menyatakan bahwa Puisi Bali Anyar yang baik adalah yang mampu menyentuh 'rasa' pembaca, bukan hanya 'nalar'. Manakah dari pernyataan berikut yang paling tepat menjelaskan implikasi dari pernyataan kritikus tersebut terhadap pemilihan diksi dan imaji dalam Puisi Bali Anyar?