Pemerintah daerah berencana untuk mengatasi masalah tingginya angka perkelahian pelajar. Mereka mengusulkan dua pendekatan: Pertama, meningkatkan patroli polisi di sekitar sekolah dan memberikan sanksi tegas bagi pelajar yang terlibat perkelahian. Kedua, mengadakan program konseling, pelatihan empati, dan kegiatan ekstrakurikuler yang positif di sekolah-sekolah. Jika tujuan utamanya adalah menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan dan mencegah masalah serupa di masa depan, pendekatan manakah yang paling efektif secara sosiologis?