Dalam tradisi sastra lisan Madura, peran seorang 'Mamaca' (pembaca tembang) atau 'Dalang' (dalam Topèng Dalang) sangat vital, bukan hanya sebagai penampil, tetapi juga sebagai pewaris, penafsir, dan inovator. Jika peran ini semakin berkurang seiring waktu, apa konsekuensi paling mendasar terhadap kelestarian sastra lisan itu sendiri?