Dua orang sahabat Kristen berselisih paham hingga terjadi pertengkaran hebat yang merusak hubungan mereka. Salah satu pihak merasa sangat sakit hati dan sulit untuk memaafkan, meskipun ia tahu ajaran Alkitab tentang pengampunan. Bagaimanakah ia dapat mempraktikkan prinsip pengampunan dan rekonsiliasi yang diajarkan Yesus (misalnya Matius 18:21-22 tentang mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali) dalam situasi nyata yang penuh emosi dan luka hati?