Setelah wafatnya Nabi Kongzi, ajaran Konfusianisme menghadapi persaingan ketat dengan aliran pemikiran lain seperti Legalisme yang pragmatis dan Taoisme yang mistis. Meskipun demikian, Konfusianisme tidak hanya bertahan, tetapi justru menjadi fondasi peradaban Tiongkok selama ribuan tahun. Mengapa ajaran Konfusianisme, yang menekankan moralitas, etika pribadi, dan harmoni sosial, dapat menjadi begitu resilient dan relevan dalam jangka waktu yang begitu panjang, bahkan melalui berbagai perubahan dinasti dan tantangan ideologis?