Dalam penciptaan sebuah tembang macapat baru, seorang pengarang sengaja mengubah jumlah guru wilangan pada salah satu gatra dari aturan baku yang semestinya, misalnya dari 8 suku kata menjadi 9 suku kata, dengan alasan estetika personal.
Apa konsekuensi paling mendasar dari tindakan pengarang tersebut terhadap tembang macapat yang diciptakannya?