Semar, tokoh Punakawan yang paling senior, sering digambarkan sebagai titisan dewa yang menjelma menjadi rakyat jelata. Ia memiliki kebijaksanaan yang luar biasa, namun selalu tampil sederhana dan humoris. Bagaimana dualisme antara kesederhanaan lahiriah dan kebijaksanaan ilahi dalam diri Semar ini berfungsi sebagai kritik sosial terhadap kekuasaan dan hierarki tradisional dalam masyarakat Jawa?