Artikel "Dilema Modernitas dan Otentisitas Tari Jawa" mengemukakan bahwa upaya untuk membuat tari Jawa lebih "menarik" bagi penonton global seringkali berujung pada modifikasi gerakan, kostum, atau musik yang menyimpang dari pakem aslinya. Namun, di sisi lain, adaptasi dianggap perlu agar tari Jawa tidak tergerus zaman. Berdasarkan narasi tersebut, bagaimana sebaiknya artikel tersebut menyimpulkan langkah yang paling bijaksana untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian otentisitas dan kebutuhan akan modernisasi tari Jawa?