Dalam wiracarita Mahabharata, konflik antara Pandawa dan Kurawa seringkali menguji batas-batas dharma dan adharma. Salah satu momen krusial adalah ketika Yudistira, meskipun kehilangan segalanya dalam perjudian, tetap berusaha menjaga prinsip kebenaran, sementara Duryodana gigih mempertahankan kekuasaan dengan cara yang tidak etis. Mengapa tindakan Yudistira yang konsisten pada dharma, meski berujung pada penderitaan, dianggap sebagai teladan kepemimpinan yang ideal, sedangkan ambisi Duryodana yang berakhir tragis justru menjadi peringatan akan bahaya adharma?