Kembali ke Katalog
SMK KELAS 12

Demokrasi Liberal & Terpimpin di Indonesia: Sebuah Analisis Komparatif

Pendahuluan

Selamat datang, siswa-siswi kelas 12! Kali ini, kita akan menyelami dua periode penting dalam sejarah politik Indonesia: Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin. Kedua sistem ini, meskipun sama-sama bertujuan untuk mencapai kesejahteraan bangsa, memiliki pendekatan yang sangat berbeda. Mari kita telaah lebih dalam!

Konsep Utama: Demokrasi Liberal vs. Demokrasi Terpimpin

Demokrasi Liberal (1950-1959):

  • Sistem parlementer: Kekuasaan eksekutif (perdana menteri dan kabinet) bertanggung jawab kepada parlemen. Kabinet dapat dijatuhkan oleh mosi tidak percaya dari parlemen.

  • Multipartai: Banyak partai politik berkompetisi dalam pemilihan umum. Hal ini mencerminkan kebebasan berpendapat dan berserikat.

  • Kebebasan sipil: Kebebasan pers, berbicara, dan berorganisasi dijamin oleh konstitusi.

  • Desentralisasi: Kekuasaan didistribusikan ke daerah-daerah.

  • Demokrasi Terpimpin (1959-1965):

    • Sentralisasi kekuasaan: Kekuasaan terpusat di tangan presiden, Soekarno. Presiden memiliki pengaruh besar dalam pembentukan kebijakan dan penunjukan pejabat.

    • Peran ABRI yang meningkat: Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) memiliki peran yang signifikan dalam politik dan pemerintahan.

    • Nasakom: Konsep persatuan antara Nasionalis, Agama, dan Komunis dipromosikan sebagai ideologi negara.

    • Pembatasan kebebasan: Kebebasan pers dan berpendapat dibatasi demi stabilitas politik dan persatuan nasional.

    Analisis & Penerapan: Perbandingan dan Kontras

    Demokrasi Liberal, meskipun menjunjung tinggi kebebasan, seringkali diwarnai oleh instabilitas politik. Kabinet sering berganti karena mosi tidak percaya, menghambat pembangunan jangka panjang. Banyaknya partai politik juga menyebabkan polarisasi dan konflik ideologi.

    Demokrasi Terpimpin, di sisi lain, memberikan stabilitas politik yang lebih besar. Namun, hal ini dicapai dengan mengorbankan kebebasan sipil dan partisipasi politik. Kekuasaan yang terpusat juga membuka peluang bagi penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Selain itu, kedekatan dengan blok timur (komunis) membuat negara barat khawatir dengan pengaruh komunis di Indonesia.

    Kedua sistem ini mencerminkan tantangan dalam membangun demokrasi di negara yang baru merdeka dengan masyarakat yang beragam. Demokrasi Liberal mencoba menyeimbangkan kebebasan dengan stabilitas, sementara Demokrasi Terpimpin lebih menekankan pada persatuan dan pembangunan nasional.

    Rangkuman

    Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin adalah dua fase penting dalam sejarah Indonesia. Demokrasi Liberal menekankan pada kebebasan dan partisipasi politik, tetapi kurang stabil. Demokrasi Terpimpin menekankan pada stabilitas dan persatuan, tetapi dengan mengorbankan kebebasan sipil. Memahami kedua sistem ini penting untuk memahami perkembangan politik Indonesia hingga saat ini. Dengan memahami kedua konsep dan penerapannya, diharapkan para siswa dapat menganalisa dan mengevaluasi sistem politik dengan lebih kritis.

    Uji Pemahaman

    #1
    Pada masa Demokrasi Liberal, sering terjadi pergantian kabinet dalam waktu singkat. Faktor utama yang menyebabkan instabilitas ini adalah...
    #2
    Salah satu ciri khas Demokrasi Terpimpin adalah konsep NASAKOM. Mengapa konsep ini dianggap kontroversial?
    #3
    Peran ABRI semakin meningkat pada masa Demokrasi Terpimpin. Apa dampak utama dari peningkatan peran ini terhadap kehidupan politik di Indonesia?
    #4
    Manakah di antara pernyataan berikut yang PALING TEPAT menggambarkan perbedaan mendasar antara Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin dalam hal kebebasan pers?
    #5
    Jika Anda diminta untuk mengevaluasi kedua sistem demokrasi ini, manakah yang akan Anda anggap lebih sesuai untuk kondisi Indonesia pasca kemerdekaan, dengan mempertimbangkan tantangan dan peluang yang ada?

    Latihan Soal Lainnya?

    Akses bank soal Sejarah Kelas 12 lengkap.

    Cari Soal