Kembali ke Katalog
KARIR KELAS UKOM

Asuhan Kebidanan Persalinan & BBL (INC)

Modul Asuhan Kebidanan Persalinan & BBL (INC)

MODUL MATERI PEMBELAJARAN LENGKAP: Asuhan Kebidanan Persalinan & BBL (INC)

Selamat datang dalam modul pembelajaran komprehensif mengenai Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir (BBL) Intranatal Care (INC). Modul ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam serta keterampilan praktis yang esensial bagi bidan dalam memberikan asuhan yang aman, efektif, dan berbasis bukti selama periode persalinan hingga segera setelah bayi lahir. Fokus utama adalah pada fisiologi persalinan normal, identifikasi dini komplikasi, dan intervensi yang tepat untuk memastikan kesejahteraan ibu dan bayi. Sebagai seorang bidan, Anda memegang peranan krusial dalam mendukung perjalanan persalinan seorang ibu, mulai dari kala pembukaan hingga penanganan bayi baru lahir.


I. Pendahuluan

Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir (INC) merupakan salah satu pilar utama dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kualitas asuhan yang diberikan pada periode ini sangat menentukan luaran kesehatan ibu dan bayi, serta berkontribusi signifikan terhadap penurunan angka morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal. Bidan memiliki peran sentral sebagai pendamping dan penyedia asuhan primer selama proses persalinan, memastikan setiap tahap berjalan fisiologis dan intervensi dilakukan hanya jika diperlukan secara medis. Asuhan ini membutuhkan tidak hanya keahlian klinis tetapi juga empati dan dukungan psikologis.

  • Tujuan Modul:
    • Memahami konsep dasar dan fisiologi persalinan normal serta patofisiologi yang mendasarinya.
    • Mengidentifikasi tanda dan gejala persalinan normal secara akurat, serta tanda bahaya yang memerlukan rujukan.
    • Menerapkan asuhan kebidanan yang komprehensif, berpusat pada ibu, dan berbasis bukti pada setiap kala persalinan.
    • Melakukan manajemen bayi baru lahir segera sesuai standar pelayanan esensial, termasuk resusitasi dasar jika diperlukan.
    • Mengidentifikasi potensi komplikasi persalinan dan bayi baru lahir, serta melakukan tindakan awal yang tepat sebelum rujukan.
    • Mengintegrasikan aspek komunikasi terapeutik, etika, dan hukum dalam praktik asuhan persalinan.
  • Ruang Lingkup: Modul ini mencakup tinjauan fisiologi persalinan, proses pengkajian holistik, pemantauan kemajuan persalinan, asuhan pada Kala I, II, III, IV, serta asuhan bayi baru lahir segera. Pembahasan juga akan menyentuh aspek pencegahan komplikasi dan intervensi dini.

II. Konsep Dasar Persalinan

Persalinan adalah suatu proses alamiah di mana janin, plasenta, dan selaput ketuban dikeluarkan dari uterus ibu melalui jalan lahir. Proses ini biasanya terjadi pada usia kehamilan 37-42 minggu. Pemahaman tentang konsep dasar ini penting untuk membedakan persalinan normal (fisiologis) dari persalinan yang berpotensi abnormal (patologis), sehingga bidan dapat memberikan asuhan yang sesuai dan tepat waktu.

  • Fisiologi Persalinan (4P): Empat faktor utama yang memengaruhi proses persalinan adalah kekuatan, jalan lahir, janin, dan psikis ibu. Interaksi yang harmonis dari keempat faktor ini esensial untuk persalinan yang lancar.
    • Power (Kekuatan): Kekuatan utama berasal dari kontraksi uterus (his) yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks, serta kekuatan sekunder dari upaya meneran ibu secara efektif pada kala II. Kualitas his dinilai dari frekuensi, durasi, dan intensitas.
    • Passage (Jalan Lahir): Meliputi panggul tulang (pelvis) yang harus memiliki dimensi yang adekuat, dan panggul lunak (serviks, vagina, perineum) yang harus elastis dan dapat berdilatasi untuk dilewati janin. Fleksibilitas jalan lahir lunak sangat penting.
    • Passenger (Janin): Terkait dengan karakteristik janin seperti ukuran (berat badan), presentasi (bagian terbawah janin), posisi (orientasi terhadap panggul ibu), dan sikap (fleksi atau ekstensi kepala dan anggota badan). Faktor-faktor ini sangat mempengaruhi mekanisme persalinan.
    • Psyche (Psikis Ibu): Kondisi emosional dan psikologis ibu yang tenang, didukung, dan termotivasi dapat memengaruhi progres persalinan secara signifikan. Rasa takut, cemas, stres, atau nyeri berlebihan dapat memicu pelepasan hormon katekolamin yang menghambat kontraksi uterus dan memperpanjang persalinan.
  • Tanda dan Gejala Persalinan: Identifikasi tanda-tanda ini penting untuk menentukan apakah seorang ibu memang sudah dalam persalinan aktif atau hanya kontraksi palsu (Braxton Hicks).
    • Kontraksi uterus yang teratur, semakin kuat, sering, dan durasi semakin lama, tidak berkurang dengan istirahat atau perubahan posisi.
    • Pengeluaran lendir bercampur darah (bloody show) akibat penipisan dan pembukaan serviks, yang menyebabkan pecahnya kapiler kecil.
    • Pecahnya selaput ketuban (ketuban pecah dini/KPD) yang ditandai dengan keluarnya cairan bening dari vagina, baik sedikit maupun banyak.
    • Rasa nyeri yang menjalar dari punggung ke perut bagian bawah dan seringkali ke pangkal paha.

III. Kala Persalinan

Persalinan dibagi menjadi empat kala, masing-masing dengan karakteristik klinis yang spesifik, tujuan asuhan, dan kebutuhan intervensi yang berbeda. Pemahaman mendalam tentang setiap kala memungkinkan bidan untuk memberikan asuhan yang tepat sasaran.

A. Kala I (Pembukaan Serviks)

Kala ini dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan progresif hingga pembukaan serviks lengkap (10 cm). Ini adalah kala terpanjang dalam persalinan, membutuhkan kesabaran dan pemantauan ketat. Kala I terbagi menjadi fase laten dan fase aktif.

  • Fase Laten: Pembukaan serviks 0-4 cm. Berlangsung sekitar 8-12 jam pada primigravida (ibu hamil pertama kali) dan seringkali lebih singkat pada multigravida (ibu yang pernah melahirkan). Kontraksi masih jarang, tidak terlalu kuat, dan ibu umumnya masih bisa beraktivitas.
  • Fase Aktif: Pembukaan serviks 4-10 cm. Berlangsung lebih cepat sekitar 4-6 jam pada primigravida dan lebih singkat pada multigravida, dengan kecepatan pembukaan minimal 1 cm per jam. Fase ini terbagi lagi menjadi fase akselerasi (pembukaan cepat), dilatasi maksimal (pembukaan tercepat), dan deselerasi (perlambatan pembukaan menjelang lengkap).
  • Asuhan Kebidanan pada Kala I: Asuhan difokuskan pada pemantauan kemajuan persalinan, kenyamanan ibu, dan identifikasi dini masalah.
    • Pengkajian: Melakukan anamnesis lengkap (riwayat kehamilan, riwayat kesehatan, tanda-tanda persalinan, kekhawatiran ibu), pemeriksaan fisik umum (TTV, status gizi, tanda-tanda vital), dan pemeriksaan obstetri (tinggi fundus uteri, denyut jantung janin/DJJ, palpasi Leopold untuk posisi dan presentasi janin, pemeriksaan dalam/vaginal toucher untuk pembukaan serviks, penipisan, konsistensi, posisi janin, dan selaput ketuban).
    • Pemantauan: Menggunakan partograf secara kontinu untuk memantau kemajuan persalinan (kontraksi uterus, pembukaan serviks, penurunan kepala janin), denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit atau lebih sering jika ada risiko, dan tanda vital ibu (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) setiap 4 jam.
    • Dukungan Psikologis dan Emosional: Memberikan dukungan terus-menerus, informasi yang jelas tentang proses persalinan, menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, serta melibatkan pendamping yang dipilih ibu.
    • Manajemen Nyeri: Menganjurkan teknik non-farmakologis (relaksasi, massage, kompres hangat/dingin, aromaterapi, perubahan posisi, hidroterapi) atau farmakologis (analgesia) jika diperlukan dan sesuai indikasi.
    • Nutrisi dan Hidrasi: Anjurkan ibu untuk mengonsumsi cairan yang cukup dan makanan ringan yang mudah dicerna agar tetap memiliki energi yang adekuat selama persalinan.
    • Mobilisasi: Mendorong ibu untuk bergerak bebas dan mengubah posisi sesuai kenyamanan (misalnya berjalan, jongkok, berdiri) untuk membantu penurunan janin.

B. Kala II (Pengeluaran Janin)

Kala ini dimulai dari pembukaan serviks lengkap (10 cm) hingga bayi lahir. Pada kala ini, ibu akan merasakan dorongan kuat yang tak tertahankan untuk meneran (refleks ferguson) karena kepala janin menekan rektum dan dasar panggul. Durasi kala II biasanya sekitar 30 menit hingga 2 jam pada primigravida, dan lebih singkat pada multigravida.

  • Tanda dan Gejala Kala II: Tanda-tanda obyektif dan subyektif yang jelas menunjukkan bahwa ibu sudah masuk kala II.
    • Ibu memiliki dorongan yang kuat untuk meneran secara spontan.
    • Perineum menonjol dan meregang saat kontraksi.
    • Vulva dan anus membuka (mengembang).
    • Adanya tekanan pada rektum dan keinginan untuk buang air besar.
    • Peningkatan pengeluaran lendir bercampur darah.
    • Kepala janin terlihat di introitus vagina (crowning).
  • Mekanisme Pengeluaran Janin: Serangkaian gerakan pasif janin saat melewati jalan lahir:
    • Engagement: Masuknya diameter biparietal ke pintu atas panggul.
    • Descent: Penurunan bagian terbawah janin.
    • Fleksi: Kepala janin menunduk maksimal.
    • Internal Rotation: Putaran paksi dalam, kepala janin menyesuaikan diameter panggul.
    • Ekstensi: Kepala janin lahir dengan gerakan ekstensi.
    • External Rotation: Putaran paksi luar, kepala kembali ke posisi semula.
    • Expulsion: Pengeluaran bahu dan seluruh tubuh janin.
  • Asuhan Kebidanan pada Kala II: Asuhan difokuskan pada membantu ibu meneran secara efektif, melindungi jalan lahir, dan mempersiapkan kelahiran bayi.
    • Posisi Meneran: Bantu ibu menemukan posisi yang paling nyaman dan efektif untuk meneran (misalnya setengah duduk, jongkok, berdiri, lateral, atau tangan-lutut). Posisi tegak membantu kerja gravitasi.
    • Bimbingan Meneran Efektif: Anjurkan ibu meneran saat ada dorongan alami yang kuat dan sesuai dengan pola kontraksi. Hindari meneran berlebihan (valsalva maneuver) atau menahan napas terlalu lama, karena dapat menyebabkan kelelahan dan penurunan oksigenasi janin. Motivasi ibu secara positif.
    • Pencegahan Ruptur Perineum: Lakukan asuhan persalinan bersih dan aman (APN), lindungi perineum dengan teknik persalinan yang benar (misalnya teknik 'hands on' atau 'hands off' yang sesuai), dan berikan kompres hangat pada perineum.
    • Penanganan Bayi Baru Lahir Segera: Setelah bayi lahir, lakukan penilaian cepat kondisi bayi, keringkan bayi secara menyeluruh, posisikan untuk kontak kulit ke kulit (K-K) dengan ibu (Inisiasi Menyusu Dini/IMD), dan klem/potong tali pusat setelah denyutan berhenti atau minimal 1-3 menit setelah lahir (penundaan penjepitan tali pusat).

C. Kala III (Pengeluaran Plasenta)

Kala ini dimulai setelah bayi lahir hingga plasenta lahir lengkap. Biasanya berlangsung sekitar 5-15 menit. Penanganan aktif pada kala III sangat penting untuk mencegah perdarahan postpartum dini, yang merupakan penyebab utama kematian ibu.

  • Tanda-tanda Pelepasan Plasenta: Beberapa tanda menunjukkan bahwa plasenta sudah mulai lepas dari dinding uterus.
    • Uterus berbentuk globuler (bundar) dan konsistensinya menjadi lebih keras.
    • Semburan darah tiba-tiba yang keluar dari vagina.
    • Tali pusat memanjang di luar vulva.
    • Fundus uteri naik dan bergeser ke atas menuju abdomen.
  • Manajemen Aktif Kala III (MAK III): Protokol yang terbukti efektif untuk mencegah perdarahan postpartum.
    • Pemberian Oksitosin: Segera setelah bayi lahir (dalam 1 menit), berikan oksitosin 10 unit secara intramuskular (IM) pada paha ibu untuk membantu kontraksi uterus dan mempercepat pelepasan plasenta.
    • Penegangan Tali Pusat Terkendali (PTT): Lakukan traksi tali pusat yang terkendali ke bawah sambil tangan lain menekan suprasimfisis (dorongan/tekanan pada korpus uteri) untuk mencegah inversio uteri. Lakukan PTT hanya setelah ada tanda-tanda pelepasan plasenta.
    • Masase Fundus Uteri: Setelah plasenta lahir, lakukan masase fundus uteri secara sirkular selama sekitar 15 detik untuk merangsang kontraksi uterus yang kuat dan mengeluarkan bekuan darah.
  • Asuhan Kebidanan pada Kala III:
    • Observasi Perdarahan: Pantau jumlah perdarahan yang keluar dari vagina dan catat estimasi kehilangan darah.
    • Pemeriksaan Kelengkapan Plasenta dan Selaput Ketuban: Setelah plasenta lahir, periksa secara menyeluruh kotiledon plasenta dan selaput ketuban untuk memastikan tidak ada bagian yang tertinggal di dalam uterus (retensio plasenta), yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum.
    • Evaluasi Robekan Jalan Lahir: Periksa perineum, vagina, dan serviks (jika dicurigai ada trauma) untuk melihat adanya robekan atau trauma. Lakukan penjahitan jika diperlukan, sesuai prosedur aseptik.

D. Kala IV (Pengawasan)

Kala ini adalah periode pengawasan kritis selama 2 jam pertama setelah plasenta lahir. Tujuannya adalah memantau involusi uterus, tanda-tanda vital ibu, dan mencegah perdarahan postpartum dini serta komplikasi lainnya yang mungkin terjadi. Ini adalah periode adaptasi penting bagi ibu dan bayi.

  • Tujuan Kala IV: Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan keras, tidak ada perdarahan berlebihan, kondisi hemodinamik ibu stabil, dan memfasilitasi proses bonding dan menyusui.
  • Asuhan Kebidanan pada Kala IV: Pemantauan ketat dan intervensi dini adalah kunci.
    • Observasi Kontraksi Uterus dan Tinggi Fundus Uteri: Lakukan palpasi dan masase fundus uteri setiap 15 menit pada jam pertama, lalu setiap 30 menit pada jam kedua. Pastikan uterus teraba keras, berada di bawah pusat atau setinggi pusat, dan tidak ada bekuan darah yang tertahan di dalamnya.
    • Observasi Perdarahan Pervaginam: Pantau jumlah dan warna lochea (darah nifas) yang keluar. Perhatikan tanda-tanda syok hipovolemik (pucat, takikardia, hipotensi). Ganti alas bawah ibu secara teratur.
    • Observasi Tanda-tanda Vital Ibu: Ukur tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan setiap 15 menit pada jam pertama, lalu setiap 30 menit pada jam kedua. Laporkan setiap perubahan signifikan.
    • Pemeriksaan Perineum dan Kandung Kemih: Pastikan tidak ada hematoma atau perdarahan aktif dari luka jahitan perineum (jika ada). Anjurkan ibu untuk berkemih dalam 2 jam postpartum untuk mencegah distensi kandung kemih yang dapat menghambat kontraksi uterus dan menyebabkan perdarahan.
    • Dukungan Bonding dan Menyusui: Fasilitasi kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi serta inisiasi menyusu dini yang berkelanjutan. Bantu ibu menemukan posisi menyusui yang nyaman dan pastikan pelekatan bayi sudah benar.
    • Kenyamanan Ibu: Pastikan ibu merasa hangat, bersih, dan berikan minuman hangat serta makanan ringan jika ibu menginginkannya.

IV. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir (BBL) Segera

Asuhan segera pada bayi baru lahir sangat penting untuk membantu adaptasi bayi terhadap kehidupan di luar rahim dan mencegah komplikasi serius seperti hipotermia, hipoglikemia, dan infeksi. Intervensi yang tepat pada menit-menit pertama kehidupan dapat menyelamatkan jiwa.

  • Penilaian APGAR Score: Dilakukan pada menit ke-1 dan ke-5 setelah lahir untuk menilai kondisi umum bayi berdasarkan 5 parameter (Appearance/warna kulit, Pulse/denyut jantung, Grimace/refleks iritabilitas, Activity/tonus otot, Respiration/pernapasan). Skor 7-10 menunjukkan kondisi bayi baik, 4-6 sedang, dan 0-3 memerlukan resusitasi segera.
  • Manajemen Jalan Napas: Keringkan bayi secara cepat dan menyeluruh untuk merangsang pernapasan dan mencegah hipotermia. Jika ada lendir atau cairan yang menghalangi jalan napas, bersihkan dengan isap lendir menggunakan penghisap lendir DeLee atau bulb syringe.
  • Pengaturan Suhu Tubuh (Pencegahan Hipotermia): Hipotermia adalah kondisi berbahaya pada BBL. Langkah-langkah pencegahan meliputi: segera keringkan bayi, letakkan bayi di dada ibu untuk kontak kulit ke kulit, selimuti ibu dan bayi, serta jaga ruangan tetap hangat.
  • Pencegahan Infeksi:
    • Pemberian salep mata antibiotik profilaksis: Untuk mencegah konjungtivitis gonore atau klamidia.
    • Pemberian Vitamin K1 injeksi 1 mg IM: Disuntikkan pada paha anterolateral bayi untuk mencegah perdarahan akibat defisiensi vitamin K.
    • Pembersihan tali pusat: Jaga tali pusat tetap bersih dan kering. Hindari penggunaan alkohol atau antiseptik berlebihan yang dapat memperlambat proses pengeringan.
  • Inisiasi Menyusu Dini (IMD): Letakkan bayi telungkup di dada ibu segera setelah lahir, biarkan bayi mencari dan menemukan puting susu ibu sendiri (breast crawl). IMD memfasilitasi proses bonding antara ibu dan bayi, kolonisasi bakteri baik pada usus bayi, serta membantu kontraksi uterus ibu.
  • Identifikasi dan Penanganan Komplikasi Dini: Bidan harus waspada terhadap tanda-tanda distress pernapasan, ikterus, hipoglikemia, atau anomali kongenital.

V. Komplikasi dalam Persalinan & Penanganannya (Overview)

Meskipun modul ini berfokus pada persalinan normal, bidan harus mampu mengidentifikasi secara dini dan melakukan tindakan awal pada komplikasi umum. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah morbiditas dan mortalitas yang lebih serius.

  • Perdarahan Postpartum (HPP): Penyebab paling umum adalah atonia uteri (uterus gagal berkontraksi), sisa plasenta, robekan jalan lahir, dan gangguan koagulasi. Penanganan awal meliputi masase uterus, pemberian uterotonika (misalnya oksitosin, misoprostol), identifikasi dan penjahitan sumber perdarahan, serta stabilisasi kondisi ibu.
  • Distosia: Persalinan yang sulit atau abnormal, bisa disebabkan oleh masalah pada "Power" (kontraksi tidak efektif), "Passage" (pelvis sempit atau tumor), atau "Passenger" (janin besar/makrosomia, malpresentasi, malposisi). Penanganan tergantung pada penyebabnya, bisa berupa augmentasi persalinan atau rujukan untuk tindakan operatif.
  • Retensio Plasenta: Plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir. Penanganan melibatkan manual plasenta (pengeluaran plasenta secara manual) di bawah kondisi steril dan analgesia yang adekuat.
  • Asfiksia Neonatorum: Kegagalan bayi untuk bernapas secara spontan dan teratur setelah lahir, sering ditandai dengan APGAR score rendah. Membutuhkan resusitasi neonatus segera dan sistematis sesuai algoritma yang berlaku, termasuk langkah-langkah awal (keringkan, hangatkan, rangsang), ventilasi tekanan positif, dan kompresi dada.
  • Ruptur Perineum Tingkat III/IV: Robekan yang meluas hingga sfingter ani atau mukosa rektum. Membutuhkan penjahitan oleh tenaga terlatih dengan teknik yang tepat untuk mencegah inkontinensia fekal di kemudian hari.

VI. Etika dan Aspek Hukum dalam Asuhan Persalinan

Penting bagi bidan untuk selalu berpegang pada prinsip etika dan aspek hukum dalam setiap tindakan asuhan. Kepatuhan terhadap standar profesional melindungi pasien dan praktisi.

  • Informed Consent: Setiap tindakan medis yang akan dilakukan harus didahului dengan penjelasan lengkap dan mudah dipahami kepada pasien mengenai kondisi, prosedur yang diusulkan, manfaat, risiko, serta alternatif penanganan. Persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga dekatnya adalah mutlak.
  • Kerahasiaan Pasien: Menjaga kerahasiaan informasi medis pasien adalah kewajiban profesional dan etis. Informasi pribadi pasien tidak boleh diungkapkan tanpa persetujuan pasien, kecuali dalam kasus yang diwajibkan oleh hukum.
  • Profesionalisme: Memberikan asuhan dengan kompetensi, integritas, dan rasa hormat terhadap hak-hak pasien. Bidan harus terus-menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan berkelanjutan.
  • Advokasi Pasien: Bertindak sebagai advokat bagi ibu bersalin, memastikan hak-haknya terpenuhi, dan keputusannya dihormati dalam batas-batas keselamatan medis.

VII. Penutup

Asuhan kebidanan persalinan dan bayi baru lahir yang komprehensif adalah kunci untuk mencapai persalinan yang aman dan hasil yang optimal bagi ibu dan bayi. Dengan pemahaman yang kuat tentang fisiologi, keterampilan klinis yang mumpuni, serta sikap profesional dan etis, bidan dapat menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan jiwa dan meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang. Ingatlah bahwa setiap persalinan adalah unik dan memerlukan pendekatan yang individual, penuh empati, dan didasarkan pada bukti ilmiah terbaru. Teruslah belajar, berinovasi, dan memberikan yang terbaik bagi setiap ibu dan bayi yang Anda layani.

Uji Pemahaman

#1
Seorang ibu, G2P1A0, usia kehamilan 39 minggu, datang ke klinik bidan dengan keluhan mules-mules teratur sejak 6 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan dalam menunjukkan pembukaan serviks 8 cm, selaput ketuban utuh, kepala H III, DJJ 145x/menit. Ibu menyatakan merasa lelah namun masih mampu mengikuti instruksi. Tindakan prioritas apakah yang harus dilakukan bidan selanjutnya sesuai Asuhan Persalinan Normal (APN)?
#2
Seorang bayi baru lahir spontan pada pukul 09.0 WIB. Setelah lahir, bidan segera mengeringkan bayi, mengganti handuk basah, dan meletakkan bayi di dada ibu untuk kontak kulit-ke-kulit. Bayi tampak aktif, menangis kuat, warna kulit kemerahan, dan refleks hisap kuat. Pukul 09.05 WIB, bidan bersiap melakukan tindakan selanjutnya yang sesuai standar INC. Tindakan apakah itu?
#3
Seorang bidan baru saja menolong persalinan bayi perempuan. Beberapa saat setelah bayi lahir, bidan melihat tanda-tanda pelepasan plasenta berupa uterus yang menjadi globular, tali pusat memanjang, dan semburan darah tiba-tiba. Apakah tindakan selanjutnya yang paling tepat dilakukan bidan sesuai MAK III?
#4
Seorang ibu, P2A0, baru saja melahirkan bayi 15 menit yang lalu. Plasenta sudah lahir lengkap. Saat dilakukan pemantauan kala IV, bidan menemukan uterus ibu lembek (atonik) dan terjadi perdarahan pervaginam yang cukup banyak. Apakah tindakan prioritas yang harus segera dilakukan bidan?
#5
Berapakah durasi normal kala III persalinan menurut standar APN, sejak bayi lahir hingga plasenta lahir lengkap?