Kembali ke Katalog
KARIR KELAS UKOM

Asuhan Kebidanan: Hamil, Bersalin, Nifas

Pengantar Asuhan Kebidanan Komprehensif: Hamil, Bersalin, dan Nifas

Sebagai seorang bidan profesional, pemahaman mendalam tentang siklus reproduksi wanita, khususnya pada fase kehamilan, persalinan, dan nifas, adalah fondasi utama dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Asuhan kebidanan yang komprehensif bertujuan untuk memastikan kesehatan optimal ibu dan bayi, mencegah komplikasi, serta mempromosikan praktik-praktik kesehatan yang positif. Paket materi ini akan mengulas secara rinci aspek-aspek kunci dalam setiap fase, membekali Anda dengan pengetahuan dan keterampilan esensial.

I. Asuhan Kebidanan pada Kehamilan (Antenatal Care)

A. Konsep Dasar Asuhan Antenatal

Asuhan antenatal (ANC) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil selama masa kehamilannya. Tujuannya adalah untuk memantau kesehatan ibu dan janin, mendeteksi dini masalah atau komplikasi, mempersiapkan ibu menghadapi persalinan dan masa nifas, serta mempromosikan gaya hidup sehat. Prinsip ANC meliputi pendekatan holistik, berkesinambungan, dan berpusat pada ibu.

  • Tujuan Utama ANC:
    • Mengenali dan menangani komplikasi yang mungkin timbul selama kehamilan.
    • Mencegah penyakit menular seperti HIV dan sifilis.
    • Mempersiapkan ibu untuk persalinan yang aman dan sehat.
    • Mempersiapkan ibu untuk pemberian ASI eksklusif.
    • Mempersiapkan ibu untuk perawatan bayi baru lahir dan kontrasepsi pascapersalinan.
  • Kunjungan ANC Minimal: Berdasarkan standar WHO, minimal 8 kali kunjungan untuk hasil maternal dan perinatal yang optimal.

B. Perubahan Fisiologis dan Adaptasi Selama Kehamilan

Kehamilan memicu serangkaian adaptasi kompleks dalam tubuh wanita. Memahami perubahan ini esensial untuk membedakan antara gejala normal kehamilan dan tanda bahaya.

  • Sistem Reproduksi: Uterus membesar, serviks melunak, vagina lebih vaskular.
  • Sistem Kardiovaskular: Volume darah meningkat (30-50%), curah jantung meningkat, frekuensi nadi meningkat, tekanan darah bisa sedikit menurun pada trimester kedua.
  • Sistem Pernapasan: Frekuensi napas bisa meningkat, kapasitas vital paru berubah.
  • Sistem Urinaria: Frekuensi buang air kecil meningkat karena tekanan uterus dan peningkatan filtrasi ginjal.
  • Sistem Pencernaan: Mual muntah (morning sickness), konstipasi, heartburn.
  • Kulit: Hiperpigmentasi (linea nigra, kloasma), striae gravidarum.
  • Endokrin: Peningkatan hormon progesteron dan estrogen, plasenta menghasilkan hormon HCG.

C. Penilaian dan Pemeriksaan Kehamilan

Setiap kunjungan ANC melibatkan serangkaian pemeriksaan untuk memantau kesehatan ibu dan janin.

  • Anamnesis: Riwayat kesehatan, riwayat obstetri, riwayat kehamilan saat ini, keluhan.
  • Pemeriksaan Fisik Umum:
    • Tanda-tanda Vital: Tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan.
    • Antropometri: Tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas (LILA).
    • Pemeriksaan kepala-leher, payudara, abdomen, ekstremitas.
  • Pemeriksaan Abdomen (Kebidanan):
    • Inspeksi: Pembesaran perut.
    • Palpasi Leopold: Menentukan posisi, presentasi, dan taksiran berat janin.
    • Mengukur Tinggi Fundus Uteri (TFU).
    • Mendengar Denyut Jantung Janin (DJJ) menggunakan Doppler atau Laennec.
  • Pemeriksaan Laboratorium: Kadar hemoglobin (Hb), golongan darah, Rhesus, skrining HIV, Hepatitis B, Sifilis, gula darah sewaktu, pemeriksaan urine rutin.

D. Edukasi dan Konseling Selama Kehamilan

Edukasi adalah komponen krusial dalam ANC untuk memberdayakan ibu hamil.

  • Nutrisi Seimbang: Pentingnya asam folat, zat besi, kalsium, protein.
  • Tanda Bahaya Kehamilan: Perdarahan pervaginam, sakit kepala hebat, pandangan kabur, bengkak pada wajah dan jari, nyeri epigastrium, gerakan janin berkurang, ketuban pecah dini.
  • Persiapan Persalinan: Rencana persalinan, persiapan biaya, donor darah, transportasi, pendamping persalinan.
  • Persiapan ASI Eksklusif: Manfaat ASI, teknik menyusui yang benar.
  • Kesehatan Gigi dan Mulut.
  • Senam Hamil dan Aktivitas Fisik.

II. Asuhan Kebidanan pada Persalinan

A. Konsep Dasar Persalinan

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin, plasenta, selaput ketuban) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan. Persalinan normal (eutocia) terjadi tanpa komplikasi, dimulai secara spontan, dan berakhir dengan persalinan janin dan plasenta pada usia kehamilan 37-42 minggu.

  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persalinan (5P):
    • Power: Kontraksi uterus dan tenaga mengejan ibu.
    • Passage: Jalan lahir (tulang panggul dan jaringan lunak).
    • Passenger: Janin (ukuran, presentasi, posisi, sikap).
    • Psyche: Kondisi psikologis ibu.
    • Provider: Penolong persalinan.
  • Tanda-tanda Persalinan: Nyeri kontraksi teratur yang progresif, keluar lendir bercampur darah (blood show), ketuban pecah.

B. Mekanisme Persalinan Normal

Persalinan dibagi menjadi empat kala.

  • Kala I (Pembukaan Serviks): Dimulai dari kontraksi uterus teratur hingga pembukaan serviks lengkap (10 cm).
    • Fase Laten: Pembukaan 0-4 cm, berlangsung lambat.
    • Fase Aktif: Pembukaan 4-10 cm, lebih cepat. Terbagi menjadi akselerasi, dilatasi maksimal, dan deselerasi.
    • Pengawasan Partograf sangat penting untuk memantau kemajuan persalinan.
  • Kala II (Pengeluaran Bayi): Dimulai dari pembukaan lengkap hingga bayi lahir.
    • Ibu memiliki dorongan kuat untuk mengejan.
    • Bidan melakukan asuhan persalinan normal (APN) meliputi pimpinan mengejan, perlindungan perineum, dan penanganan kepala bayi.
  • Kala III (Pengeluaran Plasenta): Dimulai setelah bayi lahir hingga plasenta lahir lengkap.
    • Manajemen Aktif Kala III (MAK III): Pemberian oksitosin, peregangan tali pusat terkendali (PTT), masase fundus uteri. Ini adalah intervensi standar untuk mencegah perdarahan postpartum.
  • Kala IV (Pengawasan Pascapersalinan): Dimulai dari lahirnya plasenta hingga 2 jam pertama postpartum.
    • Pengawasan ketat terhadap perdarahan, kontraksi uterus, tanda-tanda vital ibu, dan kondisi bayi.
    • Pemberian ASI dini dan bonding ibu-bayi.

C. Penatalaksanaan Persalinan

  • Pemantauan Partograf: Alat penting untuk memantau kemajuan persalinan, kondisi ibu, dan janin.
  • Asuhan Sayang Ibu: Memberikan dukungan emosional, kebebasan bergerak, posisi nyaman, hidrasi, dan privasi.
  • Inisiasi Menyusu Dini (IMD): Kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi segera setelah lahir untuk merangsang refleks menyusu.
  • Pencegahan Infeksi: Cuci tangan, sarung tangan steril, alat steril.

III. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas

A. Konsep Dasar Masa Nifas (Puerperium)

Masa nifas adalah periode sejak kelahiran plasenta hingga enam minggu (42 hari) setelah persalinan. Ini adalah waktu pemulihan bagi ibu, baik secara fisik maupun psikologis, setelah mengalami kehamilan dan persalinan.

  • Definisi: Periode involusi organ reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil.
  • Periode Nifas:
    • Puerperium Dini (Immediate Postpartum): 0-24 jam.
    • Puerperium Intermediate (Early Postpartum): 24 jam - 1 minggu.
    • Puerperium Lanjut (Late Postpartum): 1 minggu - 6 minggu.

B. Perubahan Fisiologis dan Adaptasi Selama Masa Nifas

Tubuh ibu mengalami banyak perubahan untuk kembali ke kondisi sebelum hamil.

  • Involusi Uteri: Uterus berkontraksi dan mengecil. Tinggi fundus uteri akan turun sekitar 1-2 cm setiap hari.
  • Lokia: Sekret dari uterus setelah melahirkan.
    • Lokia Rubra (1-3 hari): Merah kehitaman, terdiri dari darah dan sisa desidua.
    • Lokia Sanguinolenta (3-7 hari): Merah kecoklatan, jumlah berkurang.
    • Lokia Serosa (7-14 hari): Kuning kecoklatan, lebih encer.
    • Lokia Alba (2-6 minggu): Putih kekuningan, cairan bening.
  • Payudara: Produksi ASI dimulai (laktogenesis), payudara terasa penuh.
  • Sistem Kardiovaskular: Volume darah kembali normal, curah jantung menurun.
  • Sistem Urinaria: Distensi kandung kemih, diuresis postpartum.
  • Perineum: Pemulihan luka episiotomi atau laserasi.

C. Penilaian dan Pemeriksaan Masa Nifas

Kunjungan nifas esensial untuk memantau pemulihan ibu dan bayi.

  • Kunjungan Nifas Minimal:
    • Kunjungan 1: 6 jam - 3 hari setelah persalinan.
    • Kunjungan 2: 4 - 28 hari setelah persalinan.
    • Kunjungan 3: 29 - 42 hari setelah persalinan.
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Tanda-tanda vital (TD, Nadi, Suhu, RR).
    • Tinggi Fundus Uteri (TFU) dan kontraksi uterus.
    • Karakteristik lokia (warna, jumlah, bau).
    • Kondisi perineum dan jahitan.
    • Pemeriksaan payudara dan status laktasi.
    • Pemeriksaan ekstremitas (tanda tromboflebitis).

D. Edukasi dan Konseling Selama Masa Nifas

Pendidikan kesehatan membantu ibu dan keluarga beradaptasi dengan peran baru.

  • Perawatan Perineum: Menjaga kebersihan, teknik membersihkan, tanda infeksi.
  • ASI Eksklusif dan Teknik Menyusui: Posisi dan perlekatan yang benar, penanganan masalah menyusui (payudara bengkak, puting lecet).
  • Nutrisi Ibu Nifas: Kebutuhan kalori dan cairan yang meningkat, terutama untuk ibu menyusui.
  • Tanda Bahaya Nifas: Perdarahan berlebihan, demam, nyeri perut bagian bawah, lokia berbau busuk, payudara merah dan nyeri, nyeri saat buang air kecil, depresi postpartum.
  • Hubungan Seksual Pascapersalinan dan Keluarga Berencana: Waktu yang tepat untuk memulai kembali hubungan seksual, pilihan kontrasepsi yang sesuai.
  • Pentingnya Istirahat dan Dukungan Emosional.
  • Perawatan Bayi Baru Lahir: Tanda bahaya bayi, imunisasi.

Dengan menguasai materi ini, Anda akan siap memberikan asuhan kebidanan yang berkualitas, aman, dan berpusat pada kebutuhan ibu dan keluarga.

Uji Pemahaman

#1
Seorang ibu hamil G1P0A0 usia kehamilan 38 minggu datang ke klinik dengan keluhan keluar cairan jernih dari jalan lahir sejak 2 jam yang lalu, sedikit-sedikit, dan tidak disertai nyeri kontraksi. Hasil pemeriksaan: TTV dalam batas normal, TFU 34 cm, DJJ 145x/menit, presentasi kepala, penurunan H-2. Pemeriksaan spekulum menunjukkan adanya pooling cairan amnion. Bidan memutuskan untuk melakukan observasi dan menunggu tanda-tanda persalinan spontan. Apakah tindakan bidan tersebut paling tepat dalam situasi ini?
#2
Seorang ibu bersalin Kala I fase aktif, G2P1A0, dengan pembukaan serviks 7 cm. Pada pemeriksaan fisik, bidan menemukan denyut jantung janin (DJJ) 110x/menit dan adanya mekonium kental pada cairan ketuban yang baru pecah. Kontraksi uterus teratur, 3 kali dalam 10 menit, durasi 40 detik. Ibu tampak cemas dan gelisah. Apakah tindakan prioritas yang harus dilakukan bidan pada kasus ini?
#3
Seorang ibu primipara melahirkan 30 menit yang lalu. Plasenta telah lahir lengkap dengan tanda-tanda pelepasan yang baik. Namun, setelah dilakukan masase fundus dan pemberian oksitosin 10 IU IM, uterus terasa lembek dan terjadi perdarahan pervaginam sekitar 400 cc dalam 10 menit terakhir. Ibu tampak pucat dan mengeluh pusing. Bidan sudah melakukan penekanan bimanual eksterna. Apakah tindakan selanjutnya yang paling tepat dan esensial dalam penanganan perdarahan postpartum ini?
#4
Seorang ibu baru melahirkan bayi pertamanya 5 hari yang lalu. Ia mengeluh payudaranya terasa bengkak, nyeri, kemerahan, dan ia sedikit demam (38°C). Ibu menyatakan bayinya sering menangis setelah menyusu karena ASI yang keluar sedikit. Bidan mengamati teknik menyusui ibu kurang tepat, perlekatan bayi kurang dalam. Apakah diagnosis dan rencana tindakan yang paling tepat untuk kasus ibu ini?
#5
Seorang bidan sedang melakukan kunjungan nifas pada hari ke-3 postpartum. Ibu mengeluh sangat lelah, sulit tidur meskipun bayi tidur, sering menangis tanpa alasan yang jelas, dan merasa tidak percaya diri dalam merawat bayinya. Suami melaporkan ibu sering murung dan kurang antusias. Bidan mengobservasi ibu memiliki riwayat depresi ringan sebelum hamil. Apakah pendekatan asuhan yang paling holistik dan tepat untuk kasus ini?