Kembali ke Katalog
SMP KELAS 7

Memahami Partuturan dalam Budaya Batak

😊📚 Pendahuluan: Mengenal Partuturan

Horas, anaha didikku! Kali ini kita akan belajar hal yang sangat menarik dan penting dalam budaya Batak, yaitu Partuturan. Apa itu Partuturan? Partuturan adalah sistem kekerabatan yang sangat kompleks dan menjadi tulang punggung kehidupan sosial masyarakat Batak. Dengan memahami Partuturan, kita bisa tahu bagaimana posisi kita dalam keluarga besar dan bagaimana harus bersikap kepada setiap orang. Yuk, kita selami lebih dalam!

Penjelasan Inti: Apa Itu Partuturan dan Istilahnya?

Secara sederhana, Partuturan adalah aturan atau cara untuk memanggil atau menyebut seseorang berdasarkan hubungan kekerabatan atau silsilah marga. Ini bukan sekadar panggilan biasa, tapi menunjukkan posisi dan peran seseorang dalam tatanan sosial Batak. Sistem ini berfungsi untuk:

  • Menjaga keharmonisan dan kerukunan.
  • Menentukan hak dan kewajiban seseorang.
  • Memperkuat identitas suku Batak.

Ada beberapa pilar penting dalam Partuturan, yaitu Marga dan Silsilah. Marga adalah nama keluarga yang diturunkan dari ayah ke anak laki-laki. Silsilah adalah urutan keturunan dari nenek moyang. Mari kita kenali beberapa istilah penting dalam Partuturan:

  • Hula-hula: Ini adalah pihak keluarga istri. Mereka adalah paman dari pihak ibu (saudara laki-laki ibu kita) dan seluruh kerabat semarganya. Mereka sangat dihormati dan dianggap sebagai pemberi berkat.
  • Dongan Tubu: Artinya saudara semarga. Mereka adalah kerabat kita yang memiliki marga yang sama dan berasal dari satu keturunan. Kita adalah "sada dongan tubu" jika marga kita sama.
  • Boru: Ini adalah pihak keluarga yang menerima perempuan dari marga kita sebagai istri, atau perempuan yang marganya keluar dari marga kita karena menikah. Mereka adalah pihak yang harus menghormati dan melayani Hula-hula.
  • Bere: Anak dari saudara perempuan kita (anak dari Namboru).
  • Pariban: Sepupu yang merupakan anak dari Tulang (paman dari pihak ibu) atau anak dari Namboru (bibi dari pihak ayah), yang secara adat bisa menjadi calon suami/istri.
  • Tulang: Saudara laki-laki dari ibu kita (paman dari pihak ibu).
  • Namboru: Saudara perempuan dari ayah kita (bibi dari pihak ayah).
  • Amang/Inang: Panggilan umum untuk Bapak/Ibu.
  • Ompung: Panggilan untuk Kakek/Nenek.
  • Anggi: Adik laki-laki atau perempuan.
  • Haha: Kakak laki-laki.
  • Ito: Kakak perempuan.

Ketiga pilar utama Partuturan (Hula-hula, Dongan Tubu, Boru) ini sering disebut Dalihan Na Tolu, yang berarti "tungku yang tiga". Ini adalah filosofi hidup masyarakat Batak yang menjaga keseimbangan dan keharmonisan hubungan sosial.

Contoh Penerapan Partuturan dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagaimana Partuturan ini digunakan? Misalnya, jika kalian bertemu dengan orang Batak yang lebih tua atau belum dikenal, kalian bisa bertanya, "Marga muna aha, Ompung/Amang/Inang?" (Marga Bapak/Ibu/Kakek/Nenek apa?). Setelah tahu marganya, kalian bisa menentukan posisi tuturan kalian kepadanya.

Contoh lain:

  • Jika kamu punya marga Silalahi, dan bertemu dengan seorang perempuan bermarga Nainggolan yang suaminya bermarga Silalahi juga, maka perempuan itu adalah Boru bagimu.
  • Jika ibu kamu bermarga Hutabarat, maka semua laki-laki bermarga Hutabarat seusia ibumu adalah Tulang bagimu, dan anak-anak laki-lakinya adalah Pariban bagimu.
  • Saat ada acara adat, setiap orang akan duduk sesuai posisinya dalam Dalihan Na Tolu. Hula-hula akan duduk di tempat paling terhormat.

Rangkuman: Partuturan, Pilar Budaya Batak

Partuturan adalah warisan budaya yang sangat berharga. Dengan memahami dan menerapkan Partuturan, kita tidak hanya melestarikan adat istiadat, tetapi juga menjaga kerukunan dan keharmonisan dalam masyarakat Batak. Belajar Partuturan berarti kita belajar tentang identitas diri dan bagaimana hidup berdampingan dengan sesama. Jadi, jangan malu bertanya dan terus belajar ya, anak-anak! Mari kita bangga dengan budaya kita! 📚😊

Uji Pemahaman

#1
Ani bermarga Sidabutar. Ibunya bermarga Pasaribu. Ani memiliki seorang adik laki-laki yang menikah dengan boru Simanjuntak. Dari sudut pandang keluarga Sidabutar (Ani dan adiknya), siapakah yang disebut sebagai "Hula-hula"?
#2
Dalam sebuah acara adat Batak, posisi duduk para tetua sangat diperhatikan. Pihak yang disebut "Hula-hula" selalu ditempatkan di posisi paling terhormat dan dimuliakan. Mengapa penempatan ini menjadi sangat penting dalam konteks Partuturan dan Dalihan Na Tolu?
#3
Bayu adalah seorang pemuda Batak yang merantau ke kota besar. Ia tidak terlalu paham Partuturan. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang bapak-bapak yang lebih tua dan setelah berbincang, ternyata bapak tersebut adalah abang dari ibunya (Tulang Bayu). Karena Bayu tidak tahu, ia menyapa bapak tersebut dengan panggilan "Pak Tua". Apa dampak yang mungkin timbul dari ketidakpahaman Bayu tersebut dalam konteks adat Batak?
#4
Boru Tiur adalah anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu. Bagaimanakah tuturan yang benar untuk Boru Tiur bagimu?
#5
Andi (marga Sinaga) memiliki seorang adik perempuan bernama Sari (marga Sinaga juga). Sari menikah dengan seorang laki-laki bermarga Purba. Suatu hari, anak laki-laki dari abang kandung ibu Andi (yang bermarga Hutagalung) datang berkunjung. Bagaimana tuturan yang tepat dari Andi kepada anak laki-laki yang berkunjung tersebut?

Latihan Soal Lainnya?

Akses bank soal bahasa_batak Kelas 7 lengkap.

Cari Soal