Kembali ke Katalog
SMA KELAS 12

Kesusastraan Bali Purwa: Warisan Leluhur yang Abadi

Pendahuluan

Kesusastraan Bali Purwa, atau sastra Bali kuno, merupakan fondasi dari kekayaan budaya Bali. Istilah "Purwa" sendiri mengacu pada "kuno" atau "awal". Sastra ini berkembang sejak abad ke-9 hingga abad ke-15 Masehi, masa pemerintahan kerajaan-kerajaan di Bali. Warisan ini tertulis dalam berbagai media seperti daun lontar dan prasasti, menyimpan nilai-nilai luhur, sejarah, mitologi, dan ajaran agama Hindu-Buddha yang membentuk identitas masyarakat Bali.

Konsep Utama Kesusastraan Bali Purwa

Kesusastraan Bali Purwa memiliki ciri khas dalam bahasa, gaya penulisan, dan isi kandungannya. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jawa Kuna (Kawi) dan Bahasa Bali Kuna. Gaya penulisannya umumnya berbentuk puisi (kakawin) dan prosa (parwa). Berikut beberapa jenis karya sastra yang termasuk dalam Kesusastraan Bali Purwa:

  • Kakawin: Puisi epik yang terikat aturan metrum yang ketat. Contohnya: Kakawin Ramayana, Kakawin Bharatayuddha.
  • Parwa: Prosa yang menceritakan kisah-kisah kepahlawanan dan mitologi. Contohnya: Adiparwa, Wirataparwa.
  • Usana: Karya sastra yang berisi tentang asal-usul suatu tempat atau dinasti. Contohnya: Usana Bali, Usana Jawa.
  • Tutur: Karya sastra yang berisi ajaran-ajaran agama dan filsafat. Contohnya: Tutur Kumara, Tutur Pūrwaka.

Contoh kalimat dalam Bahasa Jawa Kuna (Kawi) dan terjemahannya:

Contoh: "hana sira ratu digwijaya, matangyan kasyasihana de sang hyang tri purusa." (Kakawin Ramayana)

Terjemahan: "Ada seorang raja penakluk dunia, oleh karena itu dikasihi oleh Hyang Tri Purusa (Tuhan dalam tiga manifestasi)."

Analisis dan Penerapan

Kesusastraan Bali Purwa tidak hanya sekadar warisan masa lalu, tetapi juga relevan dengan kehidupan masa kini. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti dharma (kebenaran), artha (kemakmuran), kama (keinginan), dan moksha (kebebasan spiritual), dapat menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan yang seimbang dan bermakna. Selain itu, mempelajari Kesusastraan Bali Purwa dapat meningkatkan pemahaman kita tentang sejarah, budaya, dan identitas Bali.

Dalam konteks modern, Kesusastraan Bali Purwa dapat diadaptasi dan diinterpretasikan dalam berbagai bentuk seni, seperti tari, teater, dan musik. Hal ini bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan warisan budaya ini kepada generasi muda.

Rangkuman

Kesusastraan Bali Purwa merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Bali. Memahami dan melestarikan warisan ini adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan mempelajari karya-karya sastra kuno ini, kita dapat menggali kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan masa kini dan memperkaya wawasan kita tentang sejarah dan budaya Bali.

Uji Pemahaman

#1
Perhatikan pernyataan berikut: 1. Menggunakan Bahasa Jawa Kuna (Kawi) 2. Berisi tentang asal-usul suatu tempat atau dinasti 3. Gaya penulisan berbentuk prosa (parwa) 4. Berisi ajaran-ajaran agama dan filsafat. 5. Puisi epik yang terikat aturan metrum yang ketat Pernyataan yang tepat mengenai ciri-ciri 'Usana' dalam kesusastraan Bali Purwa adalah...
#2
Dalam Kakawin Ramayana terdapat kalimat "hana sira ratu digwijaya, matangyan kasyasihana de sang hyang tri purusa." Kalimat ini menggambarkan...
#3
Mengapa Kesusastraan Bali Purwa masih relevan dengan kehidupan modern?
#4
Bagaimana cara melestarikan Kesusastraan Bali Purwa di era globalisasi ini?
#5
Jenis karya sastra manakah yang berisi tentang ajaran agama dan filsafat?

Latihan Soal Lainnya?

Akses bank soal Bahasa Bali Kelas 12 lengkap.

Cari Soal